Tampilkan postingan dengan label permata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label permata. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juli 2016

Mengapa batu saya belum laku-laku? (Pertemuan 9)

Barangkali di antara kita ada yang sempat menggerutu: "Mengapa batu saya belum juga laku-laku, padahal sudah setengah mati saya menawarkannya kepada banyak orang, tetapi mereka malah ogah untuk beli, apakah orang-orang lagi tidak berduit, apakah ini gara gara saya lahir pada malam jum'at kliwon, apakah ini salah ibu mengandung ataukah salah bapak yang punya burung?" Ini menggerutu apa ngomel ya, hahaha... 

Jadi ingat status jomblo nich ya, hehe.. Memang benar lebih kurang seperti itulah dia, bahwa faktor jodoh adalah yang paling menentukan dalam hal apapun, karena jodoh kan di tangan Tuhan, tapi setidaknya kita sudah berusaha, semoga dengan usaha itu kalau kita ikhlas insya Allah akan mendapatkan pahala. Ketika keadaan tidak membuat kita nyaman ada baiknya kita berhenti sejenak sambil evaluasi, apakah ada yang salah dari diri kita atau barang yang kita jual. Bukankan Allah Ta'ala tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mau mengubah nasibnya? Mau saja sudah syukur, apalagi sampai serius untuk melakukannya, insya Allah keajaiban bisa terjadi. 

Baiklah kalau benar-benar mau, mari kita bongkar rahasianya. Ada banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan barang yang kita tawarkan tidak mendapat sambutan, termasuk pula faktor jodoh, akan tetapi biasanya mengapa batu permata belum juga laku-laku?, maka di antara jawabannya adalah bisa disebabkan oleh karena ia belum berkualitas. Anggaplah kita sudah benar dalam etika menawarkan barang, tinggal yang perlu kita benahi adalah kualitas barang yang mau kita jual. 

Misalnya kita mempunyai bongkahan batu kinyang bening, agar ia bisa cepat terjual dengan harga yang bagus, maka batu tersebut harus mencukupi empat kretaria, mungkin kita sudah hapal dan paham betul keempat kretaria tersebut namun ada baiknya kita mengulang kembali, siapa tahu bermanfaat, yaitu: Clarity, Carat, Color dan Cutting atau biasa disingkat 4C. 

1. Clarity, yakni kejernihan. Semakin jernih sebuah batu maka semakin mudah kita menjualnya. 

2. Carat, yakni besar. Kalau batunya sudah jernih sekaligus besar pula, maka harga jualnya pun bisa semakin tinggi. 

3. Color, yakni warna. Kejernihan batu sudah, besarnya pun cukup, tinggal sekarang warnanya, bila warna batu tersebut menarik, dalam artian tidak pucat dan tidak pula gelap, maka insya Allah untuk menjualnya kita tidak lagi kesulitan. 

4. Cutting, yakni potongan. Apabila tiga kretaria di atas telah dipenuhi, maka model asahan batu permata juga sangat menentukan. Jika hasil asahan batunya benjong-benjong bagaimana bisa menarik hati calon pembeli? Iya kan? 

Lantas sekarang, bagaimana kalau batu yang hendak kita jual itu merupakan kualitas batu yang biasa-biasa saja? Nah, ini dia "PR" yang paling berat. Tidak banyak saran yang dapat kita petik kecuali beberapa hal berikut ini: 

1. Memposisikan diri kita sebagai pembeli. Seandainya kita berada pada posisi pembeli kita-kira mau tidak kita membeli batu dengan kualitas seperti itu?, kalau mau berarti kualitas batu kita cukup baik. 

2. Service. Anggaplah batu yang hendak kita jual itu sudah rapi, tapi mungkin saja kilapnya perlu dinaikkan lagi, mudah-mudahan begitu prospek kita melihatnya bisa langsung jatuh cinta. 

3. Jual-murah. Asal tidak rugi kita lego saja, anggap sebagai spekulasi untuk mengincar batu yang lebih berkualitas. 

4. Simpan saja. Kita jadikan sebagai koleksi, siapa tahu kalau suatu hari ada yang cari. 

Demikian dulu perjumpaan kita hari ini, semoga usaha yang kita lakukan mendapat keberkahan, sukses selalu menyertai kita dan tetap semangat di mana pun berada.


Ruby ini milik Pak Pardi, ketua dari Pardika Permata Nusantara


Sabtu, 16 Juli 2016

Apa Hebatnya Bisnis Batu Permata? (Pertemuan 7)


Pertemuan kali ini lebih ke arah menuntaskan makna bisnis dari usaha dalam bidang batu permata, di mana sebelumnya kita telah menyinggung soal tidak ubahnya jual-beli batu permata dengan jual-beli tanah yakni dalam hal menjadikan batu permata sebagai aset berharga, dan tidak ubahnya usaha di bidang ini dengan usaha di bidang-bidang yang lainnya yakni dalam hal naik-turunnya pendapatan. 
 
Baiklah, tanpa banyak basa-basi lagi kita langsung merapat kepada panduan yang ke tujuh dari bisnis batu permata, yaitu mencakup beberapa perkara yang diantaranya akan kita sebutkan berikut ini. Usaha dalam bidang batu permata bisa dijadikan sebagai batu loncatan menuju peluang-peluang besar yang lainnya, katakanlah seperti membangun rumah sewa atau apa saja yang membuat kita nyaman di kemudian hari. Memang betul tanpa harus menggeluti usaha ini saja kita bisa mencapai semua itu, namun pesan yang sesungguhnya tersimpan dari perkataan tadi adalah bahwa apapun usaha yang kita gandrungi saat ini seyogyanya tidak terlepas dari rancangan masa depan yang sengaja diprogram agar segala yang kita impikan semoga suatu hari nanti bisa menjadi kenyataan, tidak terkecuali melalui usaha di bidang ini yakni batu permata. 

Sampai di sini mungkin muncul suatu pertanyaan: Apa hebatnya usaha di bidang batu permata sehingga mampu mengantarkan kita kepada kehidupan masa depan yang lebih baik? Haha, sebenarnya usaha di bidang batu permata tidaklah sehebat yang kita bicarakan, namun ia memiliki peluang besar untuk menjadi hebat tatkala kita menjadikannya suatu bisnis, sebagaimana menjadikan produk apapun sebagai bisnis, sesungguhnya batu permata hanyalah sebuah produk yang perlu dikelola agar dapat mendatangkan income, baik itu secara aktif terlebih lagi secara pasif, itu sudah masalahnya. Dengan demikian maka layaklah usaha di bidang batu permata dijadikan suatu bisnis. 

Berbicara tentang bisnis batu permata pastinya tidak melulu berbicara tentang batu permata belaka, dikarenakan apapun yang berhubungan dengan batu permata maka tercakuplah ia ke dalam bisnis batu permata, baik itu yang berkenaan dengan ikatan yang tampil hingga berbagai macam model, penempatan yang didesain semenarik mungkin, termasuk pula penerbitan buku, majalah maupun tabloid yang khusus menceritakan tentang batu permata. Inipun tidak ubahnya dengan usaha di bidang bonsai atau apa saja yang terus merangsang segala bentuk kreativitas.

 
Ini gantungan kunci motor dari batu akik combong milik Pak Budi Juliadi yang biasa disapa Pak Teson


Layakkah Batu Permata Dijadikan Bisnis? (Pertemuan 6)


Layakkah suatu usaha di bidang batu permata dikatakan sebagai bisnis? Kalau memang layak apa alasannya dan kalau memang tidak layak apa pula alasannya? Haha, pertanyaan semacam ini sepertinya mengharuskan kita untuk melakukan uji kelayakan terlebih dahulu ya, hehe... 

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya kita memerlukan definisi yang tepat dari istilah "bisnis" itu sendiri, namun pada kesempatan kali ini kita tidak merasa benar sendiri dalam menetapkan apa definisinya, lantaran adanya perbedaan di antara kita, sehingga soal apa definisi dari bisnis itu maka jawabannya kita serahkan kepada prinsip masing-masing saja dech, hehe... 

Sebagaimana yang sudah dimaklumi bersama bahwa batu permata awalnya adalah perkara hobby dan koleksi, sehingga bisa jadi kita mengeluarkan banyak duit hanya karena untuk itu, untuk kepuasan hati, kesenangan pribadi dan kebanggaan diri sendiri. Berangkat dari pemenuhan hasrat inilah jual-beli batu permata mulai terjadi. Kalau begitu keadaannya boleh kita tanya balik: "Tidak layakkah suatu usaha di bidang batu permata dikatakan sebagai bisnis?" 

Usaha jual-beli permata tak ubahnya jual-beli tanah, seorang penjual menerima uang dan mendapatkan keuntungan kalau dia memang jual untung, karena banyak juga terjadi dia jual rugi lantaran dia berada dalam kondisi yang kepepet, adapun pembeli mengeluarkan uang, katakanlah dia menghabiskan uang baik secara kontan maupun secara cicilan, misalnya sebanyak lima juta, atau sepuluh juta, atau dua puluh lima juta, atau berapa saja yang dia mau. Maka dalam hal ini Robert T. Kiyosaki pernah mengatakan bahwa: "Keuntungan itu adalah pada saat kita membeli bukan pada saat kita menjual". Untuk lebih jelasnya silahkan membuka kembali karya tulis beliau yang berjudul Rich Dad Poor Dad. 

Usaha di bidang batu permata tak ubah pula seperti bidang-bidang yang lain, sebagaimana sedikit ilustrasi berikut ini, misalnya kita mempunyai sebuah telaga untuk menampung air yang didapat melalui aliran suatu parit kecil yang dihubungkan dengan sungai, sehingga telaga tersebut sangat bergantung pada pasang-surut air sungai, kalau air sungai sedang pasang maka otomatis isi air di dalam telaga menjadi bertambah, pertanyaannya sekarang bagaimana kalau air sungai itu tidak juga kunjung pasang? Jika ini berlangsung cukup lama maka apa yang akan terjadi pada telaga tersebut, sementara kita terus-menerus memerlukan air untuk keseharian kita? Dalam situasi semacam ini langkah sederhana yang dapat kita ambil mungkin dengan cara mengangkut air dari tempat lain, atau dengan cara apa saja yang penting tidak merugikan orang lain, hehe... 

Semua kita tentu sudah mengerti maksud dari ilustrasi tadi, sehingga tidak perlu lagi bagi kita untuk terlalu berpanjang lebar dalam membahas uraiannya. Bahwa sesuatu yang bernama usaha tidak pernah luput dari pasang-surutnya rezeki. Kita bergembira saat usaha kita mengalami kenaikan namun kita tidak lantas berputus asa saat usaha kita mengalami penurunan, sebagaimana dikatakan bahwa: "Tiap penyakit ada obatnya dan di mana ada kemauan maka di situ ada jalan". 

Kabar baiknya, usaha di bidang batu permata merupakan usaha sampingan sekaligus penyaluran hobby bagi siapa saja yang memang hobby. Sehingga kita tidak perlu untuk memaksakan diri menjadikannya sebagai pondasi ekonomi kita, kecuali bagi mereka yang telah sejak lama berprofesi di bidang ini dan telah hapal betul letak-letak celah mendapatkan penghasilan dari usaha permata tersebut, adapun ini merupakan rahasia masing-masing pemain yang dapat kita temukan sendiri seiring waktu berlalu. 

Baiklah, segini dulu pertemuan kita, selanjutnya akan kita bahas di pertemuan berikutnya, sebuah kesimpulan bahwa: "Usaha di bidang batu permata layak tidaknya dijadikan suatu bisnis, bergantung pada bagaimana cara kita dalam bermain"


Ini foto bersama kawan-kawan saat mengadakan peresmian Asosiasi Batu Permata Sambas yang awalnya hanya berupa komunitas.