Catatan penting yang selalu direvisi secara berkala, melalui metode menghubungkan berbagai fenomena sebagai pembelajaran untuk pengembangan diri
Senin, 18 Juli 2016
Mengapa batu saya belum laku-laku? (Pertemuan 9)
Minggu, 17 Juli 2016
Penyebab Kehancuran Bisnis (Pertemuan 8)
Waktu terus berpacu melaju tiada henti, seiring dengan itu tidak terasa kita telah melewati tujuh pertemuan Panduan Bisnis Batu Permata secara berturut-turut, di mana sekarang adalah panduan yang ke delapannya.
Dalam penjabaran Panduan Bisnis Batu Permata ini, kalau umur panjang insya Allah kita akan menggenapkan pembicaraan kita sampai kepada 100 pertemuan, yakni pertemuan demi pertemuan yang tidak akan menyertakan sedikitpun di dalamnya perkara-perkara yang berbau mistik maupun cerita karut.
Kalau kita seringkali lancar dalam menjual batu permata namun dalam menawarkannya kita menggunakan cara-cara modus alias modal dusta, maka sungguh kedustaan demi kedustaan itu pada suatu hari bakal berubah menjadi bumerang yang siap untuk meluluh-lantakkan bisnis yang telah lama kita bina. Maka dari itu jelaslah sudah bagi kita bahwa kehancuran suatu bisnis pada hakikatnya bisa jadi adalah karena ulah kita juga.
Bermula dari sinilah kita mengangkat tema berharga yang sangat sarat akan rahasia bisnis sehingga tanpa harus berpegang pada tradisi-tradisi yang sesat lagi menyesatkan.
Sebagai insan biasa, kita tidak mungkin bisa selalu bersih dari penyimpangan bahkan pengkhianatan, namun yang lalu biarlah ia pergi berlalu, kita anggap bahwa semua itu merupakan proses pendewasaan yang Allah Ta'ala ajarkan kepada kita.
Panduan ke delapan ini terkesan seolah muqaddimah yang seharusnya ia ditaruh pada halaman depan, mengapa ia malah ditaruh di sini? Ya, kalau begitu maka dapat kita jelaskan seadanya bahwa panduan ke delapan ini sebenarnya ingin mengangkat pembicaraan tentang beberapa pantang-larang dalam tekhnik menawarkan suatu barang kepada pelanggan, sekaligus mengingatkan kita kalau-kalau di masa lalu kita pernah salah jalan, sehingga beresiko pada rusaknya jalinan bisnis yang telah kita perjuangkan.
Lalu, bagaimana dengan fenomena anjloknya harga pasaran serta berkurangnya minat beli masyarakat, apakah ia bisa menjadi sebab akan runtuhnya bisnis batu permata?
Cerita tentang batu permata bukanlah cerita yang baru muncul di tahun 2015, jauh sebelum jaman fir'aun pun orang-orang sudah membicarakan perihal batu permata. Kisah ini tidak akan berakhir sebagaimana kisah cinta yang tidak pernah ada matinya. Jadi apakah yang runtuh itu bisnis batu permatanya ataukah yang runtuh itu bisnis kita sendiri? Semoga menemukan jawabannya
Sabtu, 16 Juli 2016
Apa Hebatnya Bisnis Batu Permata? (Pertemuan 7)
Layakkah Batu Permata Dijadikan Bisnis? (Pertemuan 6)
Selasa, 12 Juli 2016
Sambil Menyelam Cari Batu (Pertemuan 5)
Kamis, 07 Juli 2016
Nasehat yang Menyesatkan (Pertemuan 4)
Sebelum kita lanjut pada panduan yang keempat, ada baiknya kita mengingat kembali panduan yang sebelumnya. Yaitu:
-Belajar dari Kesalahan,
-Menjaga Pelanggan
-dan Memiliki Majalah.
Baiklah, panduan yang berikutnya adalah mengenai: "NASEHAT YANG MENYESATKAN".
Ada apa dengan nasehat yang menyesatkan?, dan apa saja nasehat yang menyesatkan itu? Bagi yang sudah tahu, sekalian pesan tempenya ya, hahahaha...
Bicara tentang permata tentunya tidak melulu bicara tentang batu, karena permata juga mencakup fosil, baik itu fosil hewan maupun fosil tumbuh-tumbuhan, permata juga mencakup kaca bahkan plastik, atau apa saja yang dijadikan permata maka menjadi permatalah dia.
Bagi kita pemain batu tentunya tetap menghargai permata apapun yang orang lain pakai, tidak peduli apakah itu asli ataupun palsu, karena bila mulut kita ketus maka orang lain bakal sakit hati, dan itu sangat-sangat tidak menguntungkan kita.
Ada orang yang telah menyimpan permata selama bertahun-tahun, mungkin juga itu permata peninggalan orang tuanya, atau bisa jadi pemberian teman baiknya. Tiba-tiba dia ingin sekali memperlihatkannya kepada kita, begitu kita lihat ternyata kita tahu bahwa permata itu plastik, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita langsung mengambil korek api lalu membakarnya?, atau kita berusaha untuk menghargai permata tersebut? Daripada merusak suasana hargai saja dech, kan beres.
Adapun ini lain lagi modelnya, dia punya prinsip yang kelihatannya kuat, tegap dan muanthabbe', tapi kurang paham, sebenarnya kita juga tidak bisa memastikan apakah dia memang betul-betul kurang paham, gagal paham atau pura-pura tidak paham, yang penting bagi kita orang bisnis tentunya berusaha untuk menghindari angin ribut, kita tidak merancang diri kita untuk berdebat kecuali dengan cara-cara yang kalau ke sana kita bijaksana dan kalau ke sini kita bijaksini.
Apa yang unik dari seseorang tadi? Pasti unik kan? Karena tiap-tiap kita pasti punya keunikannya masing-masing, dan itupun layak dihargai, tidak peduli apakah dia bilang batu orang lain tidak asli, yang asli hanya batunya, ataupun dia tahu permata yang dia beli misalnya kaca tapi setelah dia beli maka berubah jadi batu, hahaha, kaya' tukang sulap ya.
Lantas, apa pesan yang sebetulnya ingin saya sampaikan? Sebetulnya "NASEHAT YANG MENYAKITKAN ITU DAPAT MENYESATKAN BISNIS KITA", sehingga saya singkat menjadi Nasehat yang Menyesatkan.
Barangkali ada yang berpikir bahwa kita tidak boleh terpengaruh oleh ungkapan-ungkapan yang bertujuan untuk melemahkan kita. Saya katakan itu betul, bila perlu ketika kita dipengaruhi oleh aura negatif sebisa mungkin kita mengubahnya menjadi aura yang positif.
Barangkali pula ada yang berpendapat bahwa kita selaku pembisnis batu permata yang profesional mestinya harus tegas dalam menentukan mana permata yang natural dan mana yang sintetis. Saya katakan itu juga betul, tul, tul, tuuul, lho ko' betul-betul melulu? Jadi, yang salah yang mana? Hahaha, yang salaaah adalah kalau kita "OVER ACTING", itu sudah.
Ok, bertemu lagi ke panduan yang mendatang, sukses selalu menyertai kita, dan jangan NAKAL ya, hehehe...
