Rabu, 10 Agustus 2016

Tiap Bisnis Punya Keunikan Masing-masing (Pertemuan 27)


Anggap saja kita memiliki rencana yang agak besar, di saat bersamaan kita memiliki sedikit modal, sementara itu banyak yang harus kita biayai. Apa yang harus kita lakukan? Ini sepertinya PR yang mudah bagi orang-orang yang sudah terbiasa tapi ini menjadi tugas yang rumit bagi para pemula.

1. Bermula dari Sebuah Gagasan

Tiap bisnis memerlukan gagasan, ketika gagasan itu belum dapat maka suatu bisnis sulit sekali mau berkembang. Namun untuk menemukan gagasan yang bagus tentulah harus melalui percobaan terlebih dahulu, dan itu seringkali menyebalkan, kalau tahan hati insya Allah bisa lanjut.

Cepat-lambatnya masa percobaan bergantung pada nasib, sementara kita cukup bertindak saja setelah beberapa menit berpikir. Proses ini ibarat menarik tali busur, maka bagaimana mungkin anak panahnya akan bisa melesat kalau talinya saja tidak mau ditarik?

Pada tahapan ini bisnis seolah jalan di tempat atau bahkan terkesan merosot, tapi positif saja kita berpikir, bahwa kita sedikit mundur dengan tujuan agar bisa maju lebih cepat. Ketika kecepatan sudah mulai terjadi maka otomatis semua perencanaan yang sempat tertunda bisa untuk ditunaikan. Semoga tidak kesulitan dalam memahami, namun kalau masih belum punya gambaran, baiklah kita akan buatkan sebuah perumpamaan yang lebih gamblang.

2. Robert Membantu Temannya

Teman Robert punya masalah keuangan untuk membiayai kuliah beberapa anaknya. Maka dia pun meminta saran kepada Robert untuk memecahkan permasalahannya itu. Robert menanyakan: "Kamu punya uang berapa?" Dia menjawab: "Kami memiliki uang tabungan yang jumlahnya tidak mencukupi untuk membiayai kuliah anak-anak kami sampai mereka jadi sarjana."

"Baiklah" Robert melanjutkan, "Kita gunakan separuhnya untuk membeli sebuah rumah sederhana yang bisa direnovasi". Maka dia pun menyetujui saran Robert. Keesokan harinya mereka jalan-jalan di kota sambil melihat-lihat kalau-kalau ada rumah yang masih layak huni mau dijual orang, dan akhirnya mereka menemukannya.

Robert menawarnya, lalu pembayaran harga rumah itu dipanjar separuh. Setelah itu Robert bergegas menuju bank dan menerima sejumlah pinjaman yang akan digunakan untuk biaya renovasi rumah tadi. Sambil menunggu proses renovasi selesai Robert tidak buang waktu untuk bersegera mencari pembelinya, dan nasib memihak kepada Robert, pembelinya pun ketemu. Setelah bincang-bincang cukup lama sekalian survey rumah, pembelinya pun setuju dengan harga yang ditawarkan Robert.

Begitu renovasi selesai, pembeli membayar sejumlah uang yang sangat besar kepada Robert seraya mengatakan: "Kami sangat puas membeli rumah ini". Lalu Robert membagi uang itu untuk melunasi panjaran dan bank. Lebihnya masih banyak dan itu diserahkan kepada temannya. Maka temannya tersebut merasa puas, yang punya rumah puas, pihak bank puas, pembeli puas, dan dikarenakan bisa membantu maka Robert pun ikut merasa puas.

Kalau lagi mujur semuanya lancar seperti air mengalir, mungkin karena niat baik maka Tuhan menolong. Selain itu Robert juga seorang yang berpengalaman dalam dunia investasi real estate, jadi dia sudah terbiasa menangani kasus semacam ini.

3. Perlunya Banyak Investasi

Suatu hari Robert sempat kalah dalam satu persidangan, sehingga perusahaannya harus kebayaran mendekati 24 juta dolar, hampir setara dengan defisit APBN Indonesia 2015. Namun dikarenakan Robert punya banyak investasi di tempat lain, kejadian itu tetap membuatnya baik-baik saja.

Jadi kalau bicara soal kegagalan, siapa sebenarnya yang tidak pernah gagal? Ini sebagaimana seorang dokter yang juga pernah sakit.

4. Penjualan Rokok Versus Mobil

Di tahun 2016 ini ekonomi Indonesia memang sedang melemah sehingga daya beli masyarakat pun menjadi berkurang, bukan hanya batu permata, sampai rokok yang notabenenya membuat orang ketergantungan itu saja penjualannya merosot lebih dari 50 persen. Namun di saat bersamaan permintaan akan mobil semakin tinggi, yaitu kendaraan yang digunakan untuk mendukung suatu usaha. Jadi berkurangnya daya beli masyarakat bukanlah semata-mata karena mereka tidak punya duit, tapi mulai berhemat dan menahan diri untuk kemewahan. Namun peluang di balik itu adalah bahwa mereka berani untuk membeli barang yang harganya mahal asalkan bisa dapat untung lebih besar.

5. Nasib Penjual Pentol

Sekarang kita lihat apa dialami oleh seorang penjual pentol alias bakso bakar. Pada bulan pertama buka usaha penjualan tersebut dia berhasil memperoleh laba bersih 5 juta. Namun masuk di bulan kedua terjadi kemunduran sehingga mengakibatkan diberhentikannya seorang karyawan, begitu masuk di bulan ketiga keadaan semakin parah bahkan terjadi kerugian sehingga usahanya terancam gulung tikar.

6. Sedihnya Penjual Bakso

Bicara soal usaha jual bakso, ada seorang penjual yang dagangannya sangat laris sehingga membuat iri para pesaingnya, lalu terjadi desas-desus bahwa baksonya dibuat dari daging anjing, entah benar atau tidak, yang jelas mendengar kabar angin seperti itu berdampak pada larinya pelanggan, akhiranya penjualan makin sepi dan usaha pun tutup. Allahu Akbar, sungguh menyedihkan saudara kita tadi.

7. Penjual Tahu yang Kreatif

Di saat maraknya berita tentang bahan pengawet berbahaya yang di antaranya formalin sempat membuat usaha penjualan tahu hampir bubar, sehingga muncul ide kreatif dari salah satu penjual, yaitu dengan cara memasang plang dengan tulisan yang agak besar "Menjual Tahu Bebas Formaline". Mungkin ini bisa ditiru oleh penjual bakso tadi agar usahanya bisa diselamatkan.


Citrine


Membantah Muhammad Haidar Si Anak Jalanan (Pertemuan 26)


Pada pertemuan yang ke 25 kita telah menyinggung tentang istilah Sawabi atau Wahhabi, di mana kedua nama itu merupakan pemberian dari musuh-musuh Sunnah, oleh karenanya kita tidak menggunakan gelar tersebut, jadi pada kesempatan kali ini kita hanya menggunakan sebutan yang syar'i saja yaitu Salafi.

Di pertemuan 26 ini sebenarnya kita lebih cenderung untuk mengenalkan beberapa prinsip dari Salafi sekaligus sebagai koreksi dan membantah Muhammad Haidar Si Anak Jalanan itu:

1. Ibadah adalah tauqifiyyah atau kesepakatan, maknanya harus berdasarkan dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jika tidak ada dasar dalilnya dari keduanya itu maka kita tidak sepakat untuk menyebutnya sebagai suatu amalan ibadah.

2. Tertolaknya suatu amalan muhdats yang bukan dari ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, itu bukan semata-mata ucapan Salafi, melainkan adalah ucapan beliau sendiri dalam hadits shahih dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang dimuat di dalam kitab Al-Ahadits Al-Arba'in An-Nawawiyyah.

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

من أحدث في أمرنا هذا فهو رد

3. Telah sempurnanya ajaran Islam itu juga bukan semata-mata ucapan Salafi, itu adalah ucapan Allah Ta'ala sendiri dalam ayatnya: "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagi kalian din kalian..."

اليوم أكملت لكم دينكم 

4. Larangan meninggikan kuburan melebihi sejengkal juga bukan semata-mata Salafi yang larang, itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang larang.

5. Salam kepada ahli qubr memang ada hadits shahih yang mengajarkannya, yaitu: "assalamu 'alaikum ya ahlad-diyar...". Jadi Salafi menjadikan salam tersebut sebagai sunnah.

6. Tashawwuf memang ajaran baru, seorang sufi juga memang alergi terhadap hadits karena dia lebih mementingkan pengalaman spritual ketimbang dalil syar'i, itu adalah fakta yang banyak terkandung dalam kitab-kitabnya, yang di antaranya menjadikan syari'at sebagai kulit.

7. Ulama' memang tidak ma'shum, jadi kalau fatwanya menyalahi Sunnah maka fatwa tersebut wajib ditinggalkan, ini sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i sendiri: "In shahhal-hadits fahuwa madzhabi".

8. Maulud Nabi memang bid'ah, dalam hal ini Salafi memang sepakat. Kondisi kebid'ahan maulud bukan hanya pada peringatannya tapi juga mencakup bermacam kepercayaan dan ritual yang ada dalam acara peringatan itu.

9. Salafi sepakat bahwa Indonesia adalah negara Islam, dikarenakan pemimpinnya muslim dan rakyatnya juga mayoritas muslim. Kalau ada yang mengkafirkan negara Indonesia maka dia bukan Salafi, tapi teroris Khawarij. Jadi pemimpin Indonesia bukan thaghut sebab istilah thaghut mengarah kepada takfiriyyah.

10. Asy'ariyyah memang sesat, lantaran aqidahnya bertentangan dengan Salafi. Adapun Al-'Allamah Ibnu Hajar Al-Ashqalani bukan seorang asya'irah, beliau hanya terpengaruh fitnah asya'irah dalam bab asma' wa shifat. Jadi beliau tetaplah Salafi, barangsiapa yang menuduh beliau bukan Salafi maka itu adalah pengaruh dari paham Haddadiyyah.

11. Al-Imam Asy-Syafi'i memang tidak ma'shum, karena beliau bukan nabi, kalau ada pendapatnya yang sesuai Sunnah maka kita terima, tapi kalau ada pendapatnya yang menyelisihi Sunnah maka kita buang. Demikianlah pesan beliau sendiri dalam banyak ucapannya.

Untuk menilai apakah sebuah permata yang bernama intan itu asli atau palsu, tidak cukup dengan menggunakan diamond selector, sebab itu merupakan langkah awal saja dan belum finish. Masih ada beberapa pengetesan lagi untuk memastikannya di laboratorium yaitu tingkat kerasnya, indek biasnya, berat jenisnya dan unsur kimiawinya.

Demikian pula dalam menilai suatu kelompok yang ada di dalam Islam, tidak cukup dengan hanya sekilas pandang tanpa penelitian yang serius, salah-salah jadi fitnah nantinya.

Di bawah ini merupakan salinan dari apa yang telah dikoreksi, memang ada beberapa hal yang bertepatan dengan prinsip Salafi, dan itu tidak perlu dibantah, hanya saja bahasanya yang belum bisa diterima. Adapun hal-hal yang tidak bersesuaian atau tidak ada dalam prinsip Salafi itulah yang mesti dibantah.


Perhatikan bahasanya, mestinya dia mengatakan:
1. "Jangan melakukan suatu ibadah yang tidak ada ajarannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam". Karena sesuatu yang dicontohkan sudah pasti ia diajarkan tapi sesuatu yang diajarkan belum tentu ia dicontohkan.

2. "Semua amalan itu tertolak kalau tidak ada ajarannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam". Kalau amal ibadah bukan dari ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas mau pakai ajaran siapa lagi? Sementara beliau merupakan utusan Allah Ta'ala yang menerima wahyu dariNya, tentu beliaulah yang mengetahui bagaimana cara beribadah kepada Allah Ta'ala tersebut.

3. "Islam itu sudah sempurna tidak perlu ditambah-tambah lagi". Kalimat ini bisa kita terima, hanya saja bahasanya terkesan kasar


4. "Kubah kuburan wali harus dirubuhkan, karena banyak terjadi kesyirikan di sana". Kita hanya menjalankan Sunnah, yakni tidak membuat bangunan apapun di atas kuburan.

5. "Disunnahkan memberi salam kepada penghuni kuburan" Siapa bilang tidak sampai?

6. "Tashawwuf itu ajaran baru karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkannya" Karena beliau hanya mengajarkan syari'at.



7. "Jangan fanatik kepada 'ulama', 'ulama' itu tidak ma'shum, dan yang ma'shum hanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam" Siapa bilang jangan percaya 'ulama'?

8. "Maulid itu bid'ah, tidak boleh dilakukan" Kalimat ini betul

9. "Indonesia ini negara muslim" Siapa bilang thaghut?

10. "'Aqidah Asy'ariyyah itu sesat" Kalimat ini benar

11. "Imam Syafi'i itu tidak ma'shum" Kalimat ini juga benar.


:-)

Muhammad Haidar ini belum baca shirah kali ya tentang ditebangnya pohon 'Uzza? Mengapa dia marah kalau kubah kuburan wali dirubuhkan? Apa dia belum baca hadits tentang tidak bolehnya membuat bangunan di atas kuburan?


Muhammad Haidar ini mengaku-ngaku saja bermadzhab Syafi'i, tapi seolah-olah belum baca hadits-hadits Al-Bukhari dan Muslim serta kitab-kitab hadits susunan ulama' syafi'iyyah rahimahumullah?

Satu hal lagi mengenai tabdi', memang Salafi langsung mentabdi' orangnya, namun soal takfir, hanya mentakfir perbuatannya, kecuali telah benar-benar jelas kekufurannya. Adapun soal darah halal itu kewajiban penguasa, tidak boleh Salafi main hakim sendiri, dan itupun untuk orang yang murtad, pemberontak, qishash dan zina muhshan serta liwath.

Muhammad Haidar ini seolah sedang mengikuti kuis tebak-tebakan, yang namanya tebak-tebakan dalam hal apapun ada kalanya benar dan ada kalanya salah. Begitupun dalam hal prediksi, di mana ia tidak boleh untuk dipastikan. Sesuatu yang diprediksi memang merupakan hasil dari pengamatan, namun bukan berarti kita melupakan untuk mengkaji ulang.




Selasa, 09 Agustus 2016

Mereka Menyebutnya Sawabi (Pertemuan 25)


Perbincangan tentang Sawabi dari semenjak dahulu kala hingga saat ini sepertinya tidak akan ada habis-habisnya, ini lantaran orang-orang yang digelar sebagai Sawabi itu menerapkan manhaj tahdzir, maka secara reaksi otomatis firqah-firqah yang ditahdzir melakukan semacam perlawanan, baik itu berupa bantahan maupun sampai ke tingkat adu fisik.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa istilah Sawabi atau Salafi Wahhabi itu merupakan sebuah gelar yang diberikan oleh mereka-mereka yang tidak senang dengan dakwah kepada sunnah dan memperingatkan umat dari segala bid'ah, mengajak manusia kepada tauhid dan mencegah mereka dari perbuatan syirik. 

Hanya saja firqah-firqah yang tersinggung itu berkilah bahwa apa yang selama ini mereka tradisikan sebetulnya bukan termasuk dari perkara bid'ah apalagi suatu kesyirikan, mereka justru memutar-balikkannya dengan istilah sunnah bahkan tauhid, atau minimal sebagai bid'ah hasanah.

Agar tidak terjadi salah alamat dalam memberikan gelar, maka akan disebutkan di sini beberapa istilah yang diakui secara syar'i untuk menunjukkan kelompok yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, seperti:
-Salafi,
-Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah,
-Ahlul-Hadits, dan
-Ahlul-Atsar.

Sedangkan istilah Wahhabi sendiri tidak masuk ke dalam gelar yang diakui secara syar'i, sebagaimana dikatakan bahwa itu merupakan gelar yang disematkan oleh kelompok lain terhadap mereka. Maka secara tidak langsung menjadi gugur pula istilah Sawabi. Jika istilah Sawabi atau Wahhabi masih juga digunakan maka jelas ini menunjukkan bahwa betapa tidak mengertinya dia tentang apa yang dia bicarakan.

Maka untuk menilai suatu kelompok seyogyanya memerlukan penelitian yang dalam, tidak asal dengar dan asal baca lalu langsung disampaikan. Jangan sampai kita beralasan: "Saya dengar orang-orang mengatakan itu maka saya pun mengatakannya".

Orang Arab bilang: "Berpikirlah sebelum engkau berbuat !". Orang barat bilang: "Lihatlah sebelum engkau melangkah !". Pedagang bilang: "Telitilah sebelum membeli !". Dan kita bilang: "Pelajari dulu baru angkat bicara !"


Bulan bintang dari batu jasper


Hukum Permintaan Lebih Besar dari Kemampuan (Pertemuan 24)


Pada pertemuan 12 kita telah menyinggung perihal hukum batu permata ditinjau dari harga pasaran yang berbunyi: "Apabila penambangan batu permata terhenti oleh satu atau beberapa sebab maka otomatis harga jual dari batu permata tersebut menjadi naik meskipun sepi pengunjung". Adapun kali ini kita akan mencoba untuk menguraikan: "Hukum permintaan lebih besar dari kemampuan".

Sebenarnya rezeki yang Allah Ta'ala turunkan itu sangat berlimpah, hanya saja kita sebagai manusia punya keterbatasan untuk mengambil lebih. Ini seperti halnya kita menampung air hujan yang turun, jika kita menyiapkan wadah sebesar gayung maka kita bakal dapat segayung, jika kita menyiapkan wadah sebesar ember maka kita bakal dapat seember, dengan demikian semakin besar wadah yang kita siapkan maka semakin banyak pula air hujan yang bisa kita tampung, asal saja hujannya tidak segera berhenti tentunya.

Peristiwa permintaan lebih besar dari kemampuan mendorong kita untuk meningkatkan kecepatan, maka bermula dari sinilah pabrik-pabrik pun didirikan. Lantas bagaimana kalau kita tidak memiliki pabrik yang memadai? Apabila memang begitu kondisinya maka mau tidak mau kita harus mengatur orderan-orderan yang masuk, sembari mengefisienkan waktu-waktu yang kita miliki. Sepertinya kita dituntut untuk bekerja lebih keras lagi ya, dan semoga hal itu tidak bermasalah, karena bagaimana pun kesehatan merupakan sesuatu yang lebih utama untuk diperhatikan.

Disadari atau tidak, bahwasanya kehidupan ini memang tidak bisa dilepaskan dari percepatan, meskipun kecepatan dipenuhi dengan resiko namun kelambanan pun juga mengandung resiko. Kecepatan beresiko pada kecelakaan dan kelambanan beresiko untuk ditinggalkan. Tinggal pilih yang mana, semua terpulang kepada kita.

Dapat kita simpulkan: "Apabila permintaan lebih besar dari kemampuan maka kita dituntut untuk menambah kecepatan". Itu sudah


Jangan arahkan mata gerinda tepat di depan muka, melainkan posisikan agak miring, sebagai usaha untuk menghindari kejadian seperti gambar di atas.



Mengapa Tidak Serang Saja Israel dan Amerika? (Pertemuan 23)


Tidak sedikit dari kalangan aliran kemarahan yang telah mempertanyakan: "Mengapa negeri-negeri Arab tidak mau menyerang negara Israel dan Amerika?". Pertanyaan seperti ini sebenarnya merupakan sebuah pertanyaan klasik yang sejak dahulunya seringkali diulang-ulang. Namun untuk menjawabnya memerlukan sebuah penelitian yang tidak main-main, yakni melalui dewan fatwa dari para ulama' yang betul-betul mengerti akan mahalnya darah kaum muslimin.

Artinya, kalau salah dalam memutuskan fatwa ini maka akibatnya juga tidak main-mian, sebab ini urusan darah, suatu urusan yang paling pertama dipertanggung-jawabkan di akhirat kelak. Jadi bukan asal ngomong ceplas-ceplos tanpa mau peduli akibat yang bakal ditanggung oleh semua kaum muslimin di seluruh dunia.

Sejujurnya miris campur geram juga melihat gambar atau video tentang sebagian kaum muslimin yang tertindas di beberapa negeri. Kita berdo'a semoga Allah Ta'ala menguatkan mereka dari segala kezhaliman.

Akan tetapi, ini penting, pada hakikatnya negeri-negeri Arab juga tidak mungkin menutup mata untuk tidak membantu mereka-mereka yang teraniaya tersebut, hanya saja ini hampir tidak pernah untuk diberitakan. Seberapa besar bantuan yang diberikan? Jawabannya: "Sangat besar, bahkan lebih besar dari yang kita saksikan".

Nah, pertanyaannya sekarang, bagi yang suka berkoar-koar kesana-kemari, menyulut api fitnah, tukang adu domba dan suka berkelahi, apa yang dia sudah berikan berupa bantuan terhadap sebagian kaum muslimin yang tertindas tersebut? Sedangkan sekelas pergerakan Sayyid Quthub dan Hasan Al-Banna saja, bukannya menolong Islam malah mengacaukan syari'at dan membuat semeraut pemerintahan kaum muslimin di berbagai negeri.

Jadi, mengapa kita belum juga menyerang balik menghalau tentara-tentara zionis yang telah menguasai wilayah-wilayah penting di negeri-negeri kaum muslimin? Sejatinya ini pun telah sedaya upaya untuk diusahakan, tapi apalah kekuatan kita. Sedangkan sekelas Hamas saja yang memiliki persenjataan rudal pernah mengakui: "Tujuan kami menyerang Israel hanyalah agar mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa untuk hidup tenang".

Yang penting untuk saat ini adalah jihad dengan harta-harta kita, mereka sangat memerlukan bantuan makanan untuk bertahan hidup, obat-obatan untuk mengurus korban-korban yang terluka, bahkan persenjataan untuk mempertahankan diri.

Oleh karenanya, kita niatkan di hati kecil kita untuk lebih serius di dalam mengelola usaha-usaha kita agar dengannya kita bisa berbagi untuk menolong saudara-saudara kita yang sangat memerlukan uluran tangan kita. Insya Allah


Liontin bulan bintang dari batu jasper


Senin, 08 Agustus 2016

Perpecahan Bukan Karena Banyak Masjid (Pertemuan 22)


Mengapa muncul kebencian di hati segelintir kaum muslimin akan adanya banyak masjid yang dibangun? Mengapa mereka tidak bergembira saja saat mendapati banyak masjid berdiri di muka bumi ini? Timbulnya ketidak-senangan segelintir kaum muslimin tersebut dikarenakan suatu anggapan bahwa: "Semakin banyak mesjid berdiri maka semakin banyak pula perpecahan terjadi".

Penting untuk kita tegaskan di sini: "Sesungguhnya banyaknya masjid di sana-sini bukanlah sebab perpecahan umat". Karena tanpa adanya masjid pun sebenarnya umat ini sudah terpecah-belah, sudah tercerai-berai dan sudah terkotak-kotak. Sebagaimana yang pernah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam haditsnya tentang iftiraqul-ummah.

Timbulnya ketidak-senangan itu pula lantaran terkecohnya mereka dalam membedakan antara jama'ah dan firqah. Sesungguhnya jama'ah itu bukanlah seperti kumpulan burung yang berada pada satu tempat. Tapi jama'ah yang dimaksud adalah tetap berada di atas kebenaran meskipun cuma sendirian. Yakni dia tetap berada dalam jama'ah orang-orang shalih meskipun tidak sezaman. Bersatu dalam ajaran yang sama, prinsip yang sama dan aqidah yang sama. Sedangkan firqah atau sekte atau pecahan adalah lawan kata dari jama'ah atau persatuan. Meskipun semua firqah itu berada di satu tempat pada satu waktu, maka ia tetaplah sebagai firqah dan bukan sebagai jama'ah. Lantaran mereka berbeda ajaran, berbeda prinsip dan berbeda aqidah.

Taruhlah sekarang di satu kota cuma ada satu masjid yang sangat besar, kemudian semua sekte berkumpul di situ untuk shalat berjama'ah, apakah bisa kita katakan bahwa semua sekte di kota itu sudah bersatu? Atau mereka tetap berpegang pada sekte yang mereka anut? Sesungguhnya perpecahan tetaplah perpecahan, semua paham yang ada pada tiap sekte itu tidak bisa untuk digabungkan, kecuali mereka mau keluar dari sektenya dan mau menyatu bersama al-jama'ah, yakni Islam dengan ajaran, prinsip dan aqidah yang sama.

Jadi, dengan banyaknya masjid yang berdiri di muka bumi ini mestinya membuat kaum muslimin bergembira dan bersenang hati, bukan malah benci dan risih. Seruan adzan dikumandangkan bergema di tiap titik belahan dunia sehingga menentramkan jiwa bagi orang-orang yang beriman. Banyak alasan seseorang tidak datang shalat di masjid lantaran jarak tempuhnya jauh, kadang juga sering masbuq, tapi dengan adanya masjid terdekat akan mempermudah perjalanan memenuhi kewajiban yang lima waktu.

Soal sekte, perkara mereka mau bikin masjid sendiri itu urusan mereka, yang penting rumah kita dekat masjid, itu sudah. Bagi kita yang disibukkan dengan perdagangan, perkebunan, pengangkutan, perkantoran dan perikanan jangan lupa pula akan ibadah yang fardhu. Maka bisnis yang terbaik adalah seseorang beruntung di dunia dan dia tidak merugi di akhirat.


Batu red vulkanik model kubah mesjid


Islam Moderat atau Insan Mudharat? (Pertemuan 21)


Ketika seseorang belajar Islam dari para misionaris maka hasil yang sesungguhnya dia dapatkan bukan malah kebenaran, dan ini dapat dibuktikan. Karena bagaimana mungkin dia bisa berada di jalan yang lurus sementara musuh-musuh Allah itu menggiringnya ke jalan kesesatan?

Satu persatu untaian ajaran Islam kian dilepaskan, bila perlu dilenyapkan begitu saja dengan adanya moderatisasi dari pengekor hawa nafsu yang berkiblat pada aliran kebarat-baratan.

Bagaimana tidak, ketika mereka mendapati ada ajaran Islam yang tidak sesuai dengan akalnya maka mereka tolak, yakni mengganti tafsirannya dengan sesuatu yang lebih masuk akal, tapi kenyataannya malah tidak bisa diterima akal. Itulah hakikat sebenarnya dari moderatisasi, yakni selalu mencari jalan tengah dari berbagai persoalan dengan pertimbangan akal, padahal letak Islam tidak di akal, kalau letak Islam ada di akal maka tentu di waktu mengusap khuf tidak mengusap bagian atas dari alas kaki tersebut. Dan barangsiapa menafsirkan Al-Qur'an dengan akalnya, walaupun kebetulan benar maka ia dianggap salah, karena salah dalam cara.

Islam terletak di atas dalil dari Al-Qur-an dan As-Sunnah, sehingga dalam menafsirkan Al-Qur'an para mufassirin menggunakan metode: 1. Tafsir ayat dengan ayat, 2. Ayat dengan hadits, 3. Ayat dengan qaul shahabat, 4. Ayat dengan qaul tabi'in, 5. Ayat dengan qaul tabi'it-tabi'in, demikianlah rentetan atau tahap-tahap yang seyogyanya dilalui.

Sebenarnya akar dari pemikiran moderat terhadap Islam adalah ketika terjadi modifikasi antara ajaran agama ini dengan materi filsafat. Mereka berusaha untuk mencampurkan antara bab keimanan dengan fakta yang logis. Bermain-main dengan ayat-ayat mutasyabihat dan membuat bingung kaum muslimin lewat makar-makarnya yang selalu mereka gencarkan, orang-orang menyebutnya: "propaganda".

Kalau mau berkreasi itu janganlah masuk-masuk ke ranah syari'at, karena syari'at itu sudah jelas dan sudah lengkap, tinggal mau dijalankan apa tidak, itu saja selesai. Kalau mau berkreasi itu berkreasilah dalam urusan duniawiyyah, silakan mau berfilsafat apa saja, mau tentang ekonomi, mau tentang politik, mau tentang tekhnologi, atau tentang apapun yang penting bukan mengotak-atik ayat-ayat Allah Ta'ala dan sunnah-sunnah Rasulnya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah Ta'ala menganugerahkan kepada kita sesuatu yang bernama imajinasi, di mana dengannya kita bisa membayangkan apa yang kita inginkan dan bisa menemukan apa yang masih misterius di alam semesta yang teramat sangat luas ini. Imajinasi tersebut akan memberikan faedah luar biasa kalau diarahkan pada jalurnya, namun kalau ia mulai melampaui batas yang telah ditetapkan syari'at maka tinggal tunggu saja kehancurannya.

Kita tidak menolak 100% materi filsafat, tapi kalau bisa ilmu khusus tentang itu tidak perlu untuk dipelajari, kita kasih tanda kutip: "ilmu khusus tentang itu" lantaran pembicaraan mengenainya memerlukan semacam perincian sehingga akan menghabiskan banyak tulisan di artikel ini. Oleh karenanya kita sampaikan sekedarnya saja yang penting maksud dan tujuan dari tema yang sedang kita bahas bisa tepat sasaran.

Ngomong-ngomong soal modifikasi, kreasi dan imajinasi, setiap bisnis juga memerlukan ketiga hal ini, oleh sebab itu akankah lebih baik kalau kita memoderatisasi bisnis yang kita kelola? Kehidupan ini begitu cepat berjalan, sehingga dengan tanpa adanya pembaharuan maka kita siap-siap saja untuk ditinggalkan.

Memoderatisasi bisnis yaitu menyeimbangkan berbagai hal dalam kegiatan bisnis. Seperti mengimbangi pembicaraan saat berhubungan dengan pelanggan, menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran, antara permintaan dan kemampuan, dan lain-lainnya.

Namun sebagai seorang muslim tidak lupa pula dengan menggunakan pertimbangan dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, karena bisnis pun tidak bisa lepas dari bab jual-beli, di mana hukum-hukumnya telah diatur di dalam Islam. Adapun akal yang mencakup pula imajinasi, kita arahkan untuk mengatur berbagai strategi guna mengatasi berbagai problem dalam urusan bisnis tersebut. Jadi lagi-lagi, bahwa akal harus tunduk pada dalil syar'i, meskipun itu urusan duniawi apalagi urusan aqidah dan 'ibadah, tentu lebih tunduk lagi, ini lantaran semuanya telah diatur oleh Islam.

Akan tetapi, kalau kita menyibukkan diri kita untuk memoderatisasi ajaran Islam, padahal ajaran Islam itu sudah sempurna, maka selain tidak ada untungnya juga kesibukan itu sangat-sangat merugikan, bukan saja merugikan diri-sendiri, malah ia dapat merugikan keluarga, teman-teman maupun masyarakat di sekitar kita.

Mereka mengatakan bahwa moderat adalah wasath, kalau ditinjau dari segi makna memang serupa namun sayang ia tidak sama di dalam penerapannya. Moderat lebih cenderung untuk menjadikan akal sebagai penyeimbang terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah, sementara wasath lebih cenderung untuk menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai penyeimbang terhadap akal. Maka moderat mengatur Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan menggunakan akal, sementara wasath mengatur akal dengan menggunakan Al-Qur'an dan As-Sunnah.


Gambar di atas merupakan salah satu model batu permata dengan bentuk bintang berjari lima. Ketika seorang pengrajin batu permata diminta untuk membuat model ini maka tentu dia tidak keberatan, namun apabila dia disuruh untuk bikin salib maka hendaknya dia menolak dengan baik orderan tersebut, demikianlah tindakan yang tepat berdasarkan pertimbangan dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sementara  menurut pertimbangan akal bahwa: "Bintang dan salib itu hanyalah urusan model, toh bahannya sama-sama terbuat dari batu, kalau tidak boleh bikin salib dikarenakan berpotensi disembah maka bisa saja orang menyembah lambang bintang, lagi pula saat ini kan susah untuk dapat orderan, daripada kosong mending terima saja, tarif upahnya juga lumayan, terlebih lagi pelanggan minta bikinkan dalam jumlah yang banyak dan seterusnya dan seterusnya..." Lihatlah betapa lemahnya pertimbangan akal jika tidak berpedoman dengan bimbingan dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.


Di bawah ini menunjukkan ketidak-beresan dari istilah Islam moderat:


Dalam prakteknya, justru mereka lebih mengedepankan akal ketimbang nash dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga istilah dari Islam Moderat mestinya diganti dengan Insan Mudharat.