Minggu, 28 Agustus 2016

Klarifikasi 9 Prinsip Salafi yang Sering Disalah Fahami (Pertemuan 34)


Di zaman internet sekarang ini siapa saja dengan mudahnya untuk memuat bermacam berita, di mana pada tiap berita tersebut bersembunyi di baliknya niat-niat tertentu, baik itu untuk tujuan pendidikan maupun untuk maksud menggembosi.

Simpang-siurnya informasi yang bertebaran di medsos membuat sesuatu yang jelas menjadi samar-samar, dan membuat sesuatu yang samar-samar menjadi gelap gulita. Oleh karena itu terasa mendesak bagi kita untuk melakukan klarifikasi terhadap berbagai kabar yang berlalu-lalang di media sosial tersebut.

Sebelum kita menyebutkan beberapa prinsip penting, terlebih dahulu kita mengingat kembali makna dari Salafi: Nama ini merupakan sebuah penyandaran kepada As-Salafush-Shalih, yakni shahabat, tabi'in dan atba'ut-tabi'in. Jadi Salafi adalah orang-orang yang mengikuti manhaj Salaf dalam memahami ajaran Islam, dengan kata lain bahwa Salafi berjalan di atas prinsip para As-Salafush-Shalih.

1. Manhaj Tahdzir

Di antara prinsip Salafi dalam mencegah kemungkaran adalah menerapkan manhaj tahdzir, yakni mengingatkan umat dari kesesatan seseorang maupun kelompok dengan suatu perincian yang bisa dipertanggung-jawabkan.

Barangsiapa yang mengaku sebagai Salafi namun meremehkan manhaj ini seperti turatsiyyun atau melebihi batas dalam penerapannya seperti haddadiyyun maka dia bukanlah Salafi.

Tujuan dari tahdzir sesungguhnya untuk memurnikan ajaran Islam, agar jangan sampai gara-gara kerancuan yang dimunculkan oleh seseorang maupun suatu sekte bisa berdampak membingungkan, sehingga akibatnya umat mengira bahwa haqq sebagai bathil, bathil sebagai haqq, tauhid sebagai syirik, syirik sebagai tauhid, sunnah sebagai bid'ah, bid'ah sebagai sunnah, amal shalih sebagai maksiat, dan maksiat sebagai amal shalih.

Manhaj tahdzir ini dilakukan supaya seseorang atau kelompok yang telah menyimpang segera untuk mengumumkan taubatnya, memperbaiki sikap, perkataan dan amalan.

2. Sikap terhadap Kezhaliman Penguasa.

Sikap Salafi terhadap penguasa yang zhalim adalah bersabar, hanya satu kata itu saja, sampai kapan? Sampai mati, yakni kita yang lebih dulu mati atau dia yang lebih dulu diganti? Sesungguhnya sikap Salafi terhadap penguasa yang memerintahkan kepada sesuatu yang bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah Ta'ala adalah tetap mendengar dan tetap taat meskipun mereka berada di bawah kepemimpinan seseorang yang tidak layak dijadikan pemimpin. Seorang penguasa tidaklah diturunkan dari kedudukannya lantaran dia ahli maksiat, tidak pula dia dipecat lantaran kasus korupsi, oleh karenanya tidak ada jalan bagi Salafi untuk melakukan kudeta, tidak ada jalan bagi mereka untuk demonstrasi dan tidak ada jalan untuk membeberkan aibnya, yang ada hanyalah menasehati penguasa secara tertutup.

Adapun kalau mengkritik penguasa di atas mimbar, ada khilaf di kalangan 'ulama', sebagian membolehkannya dan itu pun dengan syarat tidak mengesankan celaan terhadapnya, bahkan dianjurkan bagi rakyat mendo'akan kebaikan untuknya.

3. Karamah Wali.

Salafi bukan hanya percaya terhadap wali Allah yang mendapatkan karamah seperti yang terjadi pada Maryam binti Imran, tapi juga percaya akan adanya wali syaithan yang mendapatkan istidraj seperti tukang sihir fir'aun. Seorang wali tidak mesti ditandai dengan kejadian yang luar biasa, dan seseorang yang mendapatkan kejadian luar biasa tidak mesti menandakan bahwa dia seorang wali. Tidak ada yang bisa mengetahui apakah seseorang itu wali atau bukan kecuali Allah Ta'ala semata. Yang jelas wali Allah itu merupakan ahli tauhid dan anti syirik, dia adalah ahlus-sunnah dan anti bid'ah.

Kepercayaan pada karamah wali adalah kita percaya akan adanya karamah yang Allah Ta'ala berikan kepada wali-Nya, sehingga kita senantiasa memuliakan kedudukannya, dan ini tidak berarti kita menjadikan para wali yang sudah meninggal itu sebagai perantara dalam ibadah kita kepada Allah Ta'ala.

4. Shalawat.

Salafi merupakan orang-orang yang sangat bersemangat dalam bershalawat, hanya saja bukan shalawat badar, nariyah, atau apapun yang mengandung kemungkaran. Shalawat yang Salafi amalkan di antaranya ketika menyebut atau mendengar nama Nabi Muhammad, mereka mengucapkan: "shallallahu 'alihi wa sallam"

5. Asma' wa Shifat.

Salafi meyakini bahwa selain Allah Ta'ala tidak boleh untuk menamai dirinya dengan nama Allah, Ar-Rahman, Rabbul-'Alamin termasuk pula Khairur-Raziqin. Salafi juga meyakini bahwa sifat-sifat Allah Ta'ala itu tidak ada yang menyamainya. Salafi menetapkan secara makna sifat turunnya Allah Ta'ala di sepertiga malam terakhir ke langit dunia, menetapkan secara makna sifat bersemayam di atas 'arasy, menetapkan secara makna sifat dua tangan yang keduanya kanan, sifat dua mata, sifat dua telinga, sifat betis dan sifat telapak kaki, namun menyerahkan hakikatnya kepada Allah Ta'ala, hanya Dia yang mengetahui hakikatnya, di mana tidak ada yang serupa dengan-Nya.

6. Tawassul

Disyari'atkan untuk bertawassul dengan nama-nama dan shifat-shifat Allah Ta'ala, bertawassul dengan iman, bertawassul  dengan tauhid, bertawassul dengan amal shalih, ataupun bertawassul dengan penghindaran terhadap maksiat. Salafi melarang untuk bertawassul dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh syari'at Islam seperti bertawassul kepada orang yang sudah meninggal dunia, bahkan baik itu kepada para nabi apalagi kepada para wali.

7. Tabarruk

Disyariatkan untuk mengadakan perjalanan menuju Al-Masjidul-Haram di Makkah, Al-Masjidul-Aqsha di Palestina dan Al-Masjidun-Nabawi di Madinah untuk mendapatkan keberkahan dari Allah Ta'ala, yakni mencakup rahmat dan maghfirahnya. Termasuk pula mengharap berkah dari Allah Ta'ala melalui seorang 'alim dengan cara duduk menuntut ilmu di hadapannya, bukan malah meminum air kobokannya.

8. Ziarah Qubur.

Disyari'atkan ziarah qubur untuk mengingatkan kepada kematian dengan cara memberi salam kepada ahli qubur dan mendo'akan kesejahteraan untuk mereka. Hanya saja Salafi tidak membenarkan membaca Al-Qur'an di quburan lantaran Al-Qur'an untuk orang yang masih hidup secara jiwa-raga bukan untuk orang yang sudah mati jiwa-raganya.

Apalagi sampai beristi'anah atau beristighatsah di sana termasuk daripadanya yaitu minta disampaikan suatu do'a kepada Allah Ta'ala melalui seseorang yang telah meninggal dunia karena tidak boleh menjadikan orang yang sudah meninggal tersebut sebagai perantara antara seseorang dengan Allah Ta'ala. Ini sebagaimana larangan untuk berperantara kepada Wadd, Suwa', Ya'uq dan Nashr di zaman Nabi Nuh 'alaihis-salam, maupun kepada Latta, 'Uzza, Manat dan Khubal di zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun semasa hidup mereka termasuk orang-orang yang shalih.

Orang yang sudah meninggal dunia sebenarnya memerlukan do'a dari orang yang masih hidup, sehingga karenanya kita berdo'a kepada Allah Ta'ala agar Dia melimpahkan kesejahteraan untuk mereka. Kita dilarang untuk berdo'a kepada orang yang sudah meninggal dunia tersebut, dilarang untuk minta-minta kepada mereka, baik itu minta langsung maupun minta disampaikan.

9. Ahlus-Sunnah

Seseorang yang betul-betul Ahlus-Sunnah tentulah lebih mengutamakan Sunnah ketimbang hawa nafsunya, hawa nafsu yang mencakup akal sehat, hati nurani dan perasaan. Itulah sebabnya mengapa Ahlus-Sunnah begitu membenci filsafat dan tashawwuf?

Jadi, bagaimana mungkin bisa untuk disamakan antara Ahlur-Ro'yi alias Ahlul-Ahwa' dengan Ahlus-Sunnah alias Ahlul-Hadits? Sementara konsekuensi keimanan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah membenarkan alias tidak mendustakan apa yang beliau bawa dan lapang dada alias tidak berat hati dalam menerima segala putusan hukum-hukumnya.

Salafi lebih berhak diklaim sebagai Ahlus-Sunnah ketimbang kaum Shufi, lantaran Salafi lebih mengutamakan Sunnah di atas kepentingan pribadi maupun golongannya, sementara kaum Shufi lebih mementingkan akal sehat, hati nurani dan perasaan serta pengalaman spritual ketimbang harus tunduk kepada Sunnah, bahkan kaum Shufi tidak segan-segan menyatakan bahwa syari'at adalah kulit luar saja sementara intinya adalah tashawwuf, sehingga otomatis kaum Shufi ingin menjauhkan umat dari Sunnah, karena Sunnah adalah syari'at itu sendiri.

Maka ASWAJA yang notabenenya orang-orang Shufi bukanlah Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah, tapi Asy'ariyyah Wal-Jahalah, disebut jahalah karena mereka menghidupkan kembali tradisi jahiliyyah yang sebenarnya telah diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan pada shahabatnya radhiyallahu 'anhum.


Tampilan di atas adalah gambar batu krisopras asal Australia, yakni dilakukan padanya proses klarifikasi dari tahapan bongkahan yang masih terlihat bernoda hingga menjadi permata yang bersih. 
Tahap 1: Bahan masih tampak di sana lapisan kulit luar yang berwarna coklat sehingga perlu pengikisan terhadap lapisan kulit luar tersebut. 
Tahap 2: Masih tersisa di situ lapisan kulit dalamnya yang berwarna putih oleh karenanya pengikisan lapisan kulit dalam pun dilanjutkan. 
Tahap 3. Bahan telah bersih namun bentuknya masih belum sempurna maka bahan tersebut tinggal dirapikan.
Tahap 4. Batu sudah menjadi permata melalui tahapan-tahapan di atas dan setelah dipoles dengan serbuk intan.

 

Minggu, 21 Agustus 2016

Saat Ajaran Agama Dijadikan Lelucon Tindakan Apa yang Seharusnya Kita Ambil? (Pertemuan 33)


Kalau ada seorang pencela negara maunya dia dilaporkan ke Polri, tapi kalau ada pencela hadits dia mau dilaporkan ke mana?

Saat ini Indonesia memang dalam keadaan serba krisis, dari krisis ekonomi sampai krisis kecemburuan, yakni kecemburuan terhadap nama baik agama tatkala ia direndahkan. Seakan-akan tidak ada lagi beban perasaan oleh sebagian manusia Indonesia yang menertawakan ajaran Islam tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa sebab hal ini bisa terjadi, yang di antaranya adalah kurangnya mempelajari hadits, mungkin pula lantaran terlalu sibuk dalam belajar ilmu tashawwuf. Sehingga dampak berikutnya yang selalu muncul adalah:

1. Mengubah Bahasa Menjadi Lelucon

Sebuah kalimat dapat mempengaruhi banyak orang, sebagaimana sebuah penelitian tentang terganggunya jiwa manusia tatkala diberitahu bahwa pakaian yang sedang dia kenakan itu ternyata bekas dari pakaian seorang penjahat yang mati terbunuh.

Demikian pula sekiranya suatu bahasa jika ia dijadikan lelucon, maka secara otomatis bagi sebagian manusia bakal tertawa ketika mendengar atau membacanya. Ini dikarenakan jiwa manusia itu sesungguhnya teramat lemah, ia mudah terpengaruh oleh apa saja yang dapat menyentuhnya.

Ketika diberitakan tentang 'Arab Sa'udi melakukan pemajangan terhadap beberapa PRT, maka serentak netizen menjadi heboh, padahal itu hanya permainan bahasa belaka, di mana sebenarnya yang melakukan pemajangan tersebut hanyalah oknum tertentu yaitu dari salah satu agen penyalur PRT yang ada di sana, jadi hal itu bukanlah suatu usulan dari pemerintahnya apalagi dari para 'ulama'nya.

Ketika diberitakan tentang fatwa hukum wajibnya menyusui lelaki dewasa yang bukan muhrim juga sempat menggemparkan dunia maya, padahal tidak begitu bahasa yang seyogyanya dipublikasikan. Karena tidak ada 'ulama' Salafi yang mewajibkannya, melainkan hanya membolehkannya dan itupun dengan cara meminumnya dari gelas yakni berdasarkan beberapa hadits shahih yang berkenaan dengan itu.

Bahasa menunjukkan bangsa, itulah pepatah orang melayu, ini bermakna hendaknya kita menggunakan bahasa yang benar dalam berbicara. Terlebih lagi kala berbicara mengenai ajaran Islam yang mengatas-namakan firman Allah dan sabda Rasul-Nya semestinya lebih bagus lagi dalam membahasakannya.

2. Sedikit-sedikit "Dasar Wahhabi"

Kita menyadari bahwasanya yang mereka maksud dengan Wahhabi adalah Salafi, dari sini kita mendapati ternyata musuh terbesar NU adalah Salafi itu sendiri, asal saja ada yang tidak beres pada Sa'udi dan orang-orang 'Arab, mereka langsung bilang: "Dasar Wahhabi". Ini menunjukkan betapa sempitnya cara mereka berpikir, yakni menilai suatu kelompok dari orang-orangnya, apakah lantaran semua orang NU sudah dapat dipastikan bagus semua akhlaknya? Kalau ada oknum NU yang bermasalah apakah mereka terima kalau kita bilang: "Dasar NU"?

Negara 'Arab Sa'udi itu kan sangat luas dengan penduduk yang beraneka- ragam golongan, ada Syi'ah, ada Khawarij bahkan ramai pula yang ber'aqidah asy'ariyyah, sedangkan Salafi kalau mereka tahu termasuk minoritas saja di sana.

3. Simulasi debat praktis

Mereka juga sibuk memikirkan bagaimana cara praktis untuk berdebat dengan Salafi, membuat seolah-olah untuk mendebat Salafi tidak diperlukan ilmu yang memadai, jadi bahasanya pun dibuat selugu mungkin. Maka, bagaimana kiranya mereka bisa mendebat ahli hadits dengan argumentasi anak jalanan?


Ini merupakan gambar yang dikenal dengan batu pirus atau batu Persia dengan warna biru toska yang menarik, sebagai kebanggan bagi bangsa Persia, ia tergolong sejenis dengan batu turkois atau batu turki sebagai kebanggan bagi bangsa Turki. Batu pirus ini masyhur lantaran dahulu kala dijadikan pernak-pernik untuk menghiasai istana raja. Tingkat keras batu ini adalah 6 skala mohs, yaitu 1 tingkat di bawah batu kuarsa, sehingga perlu kehati-hatian pada saat memakainya dikarenakan batu dengan tingkat keras 6 tidak tahan terhadap goresan.  Batu permata bisa terangkat nilainya apabila terdapat suatu keunikan, adapun pirus bisa bernilai tinggi harganya apabila terdapat ada urat berwarna emas di sana.

Demikianlah setiap negara punya kebanggaan masing-masing, terutama benderanya, lambang negaranya, lagu kebangsaannya dan undang-undangnya. Apabila kebanggaan yang dimiliki oleh suatu negara direndahkan maka sikap yang diambil oleh orang-orang yang kental nasionalismenya dan kuat jiwa patriotnya langsung mengambil tindakan tegas memarahi bahkan tidak segan-segan menggampar pelakunya.

Demikian pula setiap agama pun punya kebanggaan sendiri-sendiri, terutama Tuhannya, utusan Tuhannya dan kitab sucinya. Terkhusus bagi kaum muslimin pasti membanggakan Allah Ta'ala beserta ayat-ayat-Nya yang termaktub di dalam Al-Qur'an dan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam beserta hadits-haditsnya yang termaktub di dalam As-Sunnah. Tatkala ayat-ayat Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya dijadikan lelucon, apa reaksi yang sepatutnya kita ambil? 
a). Apakah diam saja? 
b). Ataukah membencinya? 
c). Atau malah tertawa terbahak-bahak? 
d). Ataupun meninggalkan pelakunya? 
e). Atau pula menasehatinya?


Jumat, 19 Agustus 2016

Memangnya NKRI cuma NU yang Punya (Pertemuan 32)


Tidak habis pikir, ada di kalangan kaum Nahdiyyin yang terlalu kental nasionalismenya, seakan-akan merasa bahwa hanya merekalah yang punya Indonesia, sehingga mau mengusir golongan manapun yang tidak sejalan dengan pemikirannya.

Apakah ini wajah sebenarnya NU? Ataukah ini karena pengaruh JIL yang kini merubah namanya menjadi JIN? Wallahu a'lam bish-shawab.

Apakah salah kalau kita mengatakan bahwa sistem demokrasi bukan dari Islam? Apakah salah kalau kaum muslimin menginginkan undang-undang yang sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah? Apakah salah kalau kita mempelajari kitab Hudud wa Jinayah?

Pada kesempatan yang menegangkan ini kita tidak akan menyinggung perihal kelompok-kelompok lain, lantaran ini urusan pribadi antara NU dengan Salafi.

Sebenarnya jenuh juga membahas tema tentang ini, tapi apa boleh buat, karena kita melihat sikap pembodohan yang dilakukan NU baru-baru ini sudah melampaui batas. Bagaimana tidak, ketika Salafi mengkritik beberapa perkara 'aqidah dan 'amaliyyah NU yang bertentangan dengan dalil-dalil Sunnah maka mereka membalasnya dengan menggunakan dalil-dalil fitnah. Ini semakin memperjelas bahwa NU memang suka mengada-ada.

Menuduh Salafi sebagai teroris dengan nama Wahhabi cukup membuktikan bahwa NU memang benar-benar asal bicara. Tidak ada sejarahnya bahwa Salafi pernah merongrong penguasa apalagi sampai melakukan kudeta, bahkan untuk kemerdekaan 'Arab Sa'udi pun murni karena dakwah tauhid, yakni sebagaimana yang menjadi prioritas dakwah para nabi 'alaihimus-salam terkhusus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam.

Perkara terjadi penghancuran kubah yang berdiri di atas kuburan orang yang dianggap wali pada zaman Asy Syaikh Muhammad bin 'Abdul-Wahhab itu pun melibatkan aparat penguasa, lantaran di dapati di sana ramai orang-orang yang meminta berkah. Jadi bukan dilakukan secara perorangan maupun kelompok ta'lim. Jika penguasa mengizinkan maka penghancuran akan dilakukan tapi jika penguasa tidak mengizinkan maka hal itu tidak boleh untuk dilakukan.

Demikian pula konsep jihad Salafi, yang di antara persyaratannya adalah harus mengajukan permohonan izin kepada penguasa, seperti pada saat jihad di Ambon dan Yaman. Jika disetujui maka akan berangkat, tapi jika disuruh bubar maka harus ta'at.

Mengenai pemilu, Salafi memang tidak mau terlibat apalagi soal kepartaian, tapi di saat seseorang dinyatakan sah menjadi pemimpin negara dari hasil pemilu tersebut maka Salafi pun turut menyatakannya sah.

Tentang pemberontak negara, Salafi menyatakan bahwa halal bagi penguasa untuk membunuhnya sebagaimana yang dilakukan oleh aparat di era orde baru dan Densus 88 di era reformasi.

Kalau kita amati seluruh konsep yang ada pada Salafi maka kita akan berkesimpulan bahwa tidak satupun ajaran Salafi yang membolehkan untuk menyakiti penguasa, bahkan sebaliknya Salafi mengajak ummat untuk mendo'akan kebaikan kepada penguasa tersebut.

Ada seseorang bertanya: "Kalau kamu bermakmum di belakang seorang imam yang kamu tahu dia berkelakuan tidak baik maka bagaimana sikapmu? Kita jawab: "Tetap ta'at, selama dia tidak terjatuh ke dalam kekufuran, kalau jelas-jelas kita tahu bahwa dia seseorang yang kufur maka kita boleh bubar"

Dalam urusan hukum tabdi' dan takfir pun Salafi punya konsep yang ketat, jika kita menemukan ada penghalang-penghalangnya maka seseorang tidak boleh untuk ditabdi' apalagi ditakfir.

Disarankan bagi kita untuk mempelajari dulu konsep-konsep yang ada pada Salafi, karena jangan sampai terjadi lagi sesuatu yang tidak ada malah diada-adakan. Jika NU tidak setuju bahwa Allah Ta'ala berada di atas langit, Allah memiliki dua tangan, dua mata, dua telinga, betis dan telapak kaki, maka Salafi tetap meyakininya, hanya saja sifat Allah Ta'ala tersebut tidak sama dengan sifat makhluq'nya. Jika NU menyatakan bahwa Salafi adalah teroris, maka Salafi berhak menolaknya, lantaran Salafi juga antipati terhadap teroris.

Bicaralah seadanya, jangan sia-siakan kesempatan untuk jujur di dalam agama, kalau mau merinci maka rincilah dengan rincian yang baik. Terlebih lagi NU kan bukan organisasi kecil, hendaknya lebih profesionallah dalam mengkritisi.



Bongkahan kecubung asal Lampung yang di pajang di Rawa Bening


Kamis, 18 Agustus 2016

Membantah Abdullah Ade (Pertemuan 31)


Sepertinya seseorang yang bernama Abdullah Ade ini belum dapat membedakan antara Syi'ah, Khawarij, dan Salafi, padahal nampak sekali perbedaannya. Ataukah memang dia sengaja untuk menyatukan mereka, entahlah, yang jelas cara seperti ini semakin menunjukkan betapa sembrononya dia dalam membuat tulisan.

Pada artikel kali ini kita tidak membahas tentang wahhabi secara panjang lebar lantaran mengenainya telah kita singgung di pertemuan 25 dan 29. Baiklah, seperti biasa kita akan menampilkan 7 point penting:

1. Syi'ah
Seperti halnya Syi'ah Imamiyyah atau Itsna 'Asyariyyah yang menganggap 12 imam mereka sebagai orang-orang yang ma'shum, mereka juga membenci Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar Al-Faruq, Utsman Dzun-Nurain, 'Aisyah binti Abi Bakr dan Hafshah binti 'Umar radhiyallahu 'anhum. Dari sini saja Salafi sudah tidak sepakat, belum lagi soal Karbala berdarah, nikah mut'ah dan yang lain-lainnya, termasuk pula mengenai mushhaf Fathimah radhiyallahu 'anha. Adakah Salafi meyakini perkara tadi? Jika tidak, maka Syi'ah dan Salafi sangat jauh berbeda, jadi keduanya tidak bisa untuk disamakan.

Kita kan sudah mengetahui bahwa musuh besar Syi'ah adalah Sunni Salafi, jadi bagaimana mungkin ajarannya bisa dipadukan? Jangankan ajarannya, orang-orangnya saja sulit sekali mau didamaikan, apalagi kalau jumlah orang-orang Syi'ah sudah mayoritas maka bakal habislah Sunni Salafi diporak-perandakannya.

Justru kalau kita perhatikan antara Asy'ariyyah dan Syi'ah banyak juga kemiripan dalam 'aqidah dan 'amaliyyahnya, sehingga ada yang mengatakan bahwa NU adalah Syi'ah tanpa imamiyyah sedangkan Syi'ah adalah NU yang berimamiyyah, buktinya mereka sama-sama mensyari'atkan minta berkah ke kuburan wali, menyemarakkan tawassul dengan orang-orang mati, menghidupkan acara maulud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan membolehkan jimat. Keduanya pun mengambil filsafat dan tashawwuf dalam memahami ajaran agamanya, mereka pula sama-sama mempercayai khurafat dan tahkayyul, sebagaimana berbagai kisah dari orang-orang Shufi. Jika salah mohon dikoreksi, jika benar akui saja.

2. Khawarij
Tokoh kontemporer seperti Sayyid Quthub dan Hasan Al-Banna yang melalui pengaruh mereka berdua maka muncullah Al-Qaida dan dari Al-Qaida itu lahirlah ISIS. Lihat saja apa yang telah ISIS yakini dari hukum bom bunuh diri, apakah ada Salafi yang membolehkannya? Kalau tidak ada berarti Khawarij dan Salafi tidak bisa untuk disamakan, keduanya juga sangat jauh berbeda dalam banyak hal lain terutama dalam memahami ayat yang berkenaan dengan hukum Allah Ta'ala.

Kadangkala dalam sepak terjang orang-orang Asy'ariyyah nampak pula kekhawarijannya, seperti mengkafirkan pemerintah Sa'udi dan berani mencerca penguasa muslim.

Memang benar ada di antara orang yang bermanhaj Khawarij itu secara 'aqidah mereka Salafiyyah, namun ramai juga di antara mereka yang memiliki 'aqidah Asy'ariyyah, Mu'tazilah, Qadariyyah bahkan ada pula yang ber'aqidah Syi'ah. Sebagaimana yang contohkan oleh Hasan Al-Banna dan ajarannya diterapkan oleh Al-Ikhwanul-Muslimun.

3. Salafi
Kita lihat Salafi saat ini, adakah Salafi mengajak manusia untuk mencela penguasa muslim sebagaimana yang dilakukan oleh Khawarij? Jangankan mencela sedangkan untuk demonstrasi saja Salafi melarangnya.

4. NU
Manhaj NU adalah Asy'ariyyah, perbedaan mencolok antara mereka dengan Salafi adalah dalam bab Asma' wa Shifat, namun yang sering dimunculkan adalah perbedaan dalam hukum maulud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan banyak lagi yang lainnya termasuk menghukumi ilmu tashawwuf, yasinan, tahlilan dan sebagainya.

5. Fitnah
Ada beberapa pengertian terkait makna fitnah, di mana ia bisa diartikan dengan syubhat, ujian dan bisa pula diartikan dengan tuduhan. Kalau kita memperhatikan cara Abdullah Ade dalam menulis, ia lebih cenderung kepada fitnah yang berarti tuduhan, yakni tidak ada kena-mengenanya dengan manhaj Salaf, sekaligus mengandung syubhat yang sangat rapuh. Bahasa yang dia gunakan juga terkesan provokasi, kurang beradab dan agak asal-asalan, sehingga cukup menguji kesabaran kita dalam menanggapinya.

7. Nasionalisme
Sudah selayaknya kita sebagai penduduk Indonesia untuk cinta kepada tanah air, namun kala bicara tentang Islam tentunya ia lebih bersifat universal, jadi tidak ada istilah Islam Nusantara, Islam Arab ataupun Islam Amerika. Mengenai adat-istiadat yang ada pada setiap suku, jika ia tidak bertentangan dengan ajaran Islam silahkan untuk dilestarikan. Demikian pula dengan hukum perundang-undangan negara, jika didapati ia bertabrakan dengan syari'at Islam maka kita menghadapinya dengan cara yang juga sesuai syari'at yaitu bersabar, itu sudah.

Atas dasar nasionalisme Abdullah Ade ini menyeru kepada pemerintah untuk membasmi Salafi. Pertanyaannya: Apa bahaya Salafi terhadap NKRI? Silahkan periksa kitab-kitab Salafi dan daurah-daurahnya, adakah Salafi mengarahkan ummat untuk memberontak kepada penguasa? Tunjukkan satu kitab saja yang membahas tentang itu? Kita yakin dia tidak akan bisa membuktikannya secara 'ilmiyyah kecuali cuma dengan jalan singkat yakni menyamakan antara Salafi dan Khawarij dengan istilahnya yaitu Wahhabi. Jangan-jangan malah dia yang bakal dijebloskan ke dalam penjara lantaran berperan sebagai provokator.


Itulah dia Abdullah Ade, orang ini bukannya   mempelajari Hadits, tapi malah mengajak manusia untuk mengolok-oloknya.




Rabu, 17 Agustus 2016

Usaha Rentan Komplain (Pertemuan 30)


Yang namanya usaha tentu selalu berhubungan dengan manusia, tinggal seberapa ramai saja yang terlibat dengan usaha kita. Semakin ramai manusia yang terlibat maka semakin besarlah kesempatan untuk berhasil, sekaligus semakin banyak pula menemui bermacam-macam karakter dari tiap pribadi manusia.

1. Komplain
Bicara tentang komplain sesungguhnya bukan hanya terjadi pada bidang jasa, di bidang penjualan pun bisa saja seorang penjual mendapatkan komplain. Jadi inti dari permasalahan sebenarnya bukanlah pada komplain itu sendiri, melainkan bagaimana cara kita dalam menghadapi komplain.

2. Pengaruh Komplain
Komplain itu bisa berdampak menghancurkan, oleh karenanya bagi yang gemar komplain agar menjaga ucapannya, komplain juga bisa berefek membangun, oleh karenanya bagi yang sering dikomplain agar menguatkan kesabarannya.

Dalam kehidupan yang tidak ada hubungannya dengan usaha jasa dan penjualan pun komplain seringkali dapat terjadi, yakni pada saat kemauan seseorang tidak dituruti ataupun dia mendapati ada yang tidak beres dalam dilakukannya sebuah pekerjaan, sehingga seorang suami misalnya bisa marah-marah pada istrinya, seorang anak bisa protes pada orang tuanya, bahkan yang lebih berbahaya lagi saat seseorang sudah berani menyalahkan nasibnya, sehingga secara otomatis dia mulai komplain terhadap ketentuan Tuhannya.

3. Janji
Mungkin dikarenakan janji yang melebihi kemampuan diri bisa bikin orang jadi komplain, jika ini masalahnya, maka tinggal disesuaikan saja antara janji dan kemampuan diri tersebut seraya mengucapkan insya Allah.

4. Persaingan
Slogan untuk memanjakan konsumen dapat menarik simpati khalayak ramai, jika konsumen merasa tidak puas dengan pelayanan yang kita berikan maka jangan salahkan mereka kalau sampai mereka pindah ke lain hati. Dengan adanya sebuah persaingan maka setiap kita akan berlomba-lomba untuk senantiasa memperbagus kinerja dan pelayanan.

5. Batu Loncatan
Profesi itu merupakan pilihan, kalau kita merasa bahwa profesi yang kita geluti saat ini menyakitkan perasaan maka kita berhak untuk menggantinya dengan profesi yang lebih nyaman. Akan tetapi pelan-pelan karena kalau terburu-buru khawatir nanti jadi penyesalan. Anggap saja batu loncatan untuk melangkah ke arah yang lebih maju.

6. Kemerdekaan
Tidak enak memang kalau jadi orang suruhan, tapi kalau tidak ada yang menyuruh juga bikin kepala jadi pusing, tidak enak pula kalau kita dimanfaatkan orang lain, tapi kalau tidak ada yang mau memanfaatkan kita juga bikin hidup ini sia-sia. Sesungguhnya letak kemerdekaan itu berada di akhir perjuangan, kalau kita menikmatinya di awal maka pada akhirnya kita akan membayarnya dengan kerja keras.

7. Menjumlahkan Persentase
Menghitung berapa jumlah orang yang komplain dan berapa jumlah orang yang puas dengan pelayanan kita, jangan-jangan emosi kita sedang disibukkan oleh perlakuan satu atau dua orang saja. Perlu bagi kita untuk membuat cabang permasalahan kita sehari-hari, yakni dengan menulis semua masalah yang sedang kita hadapi, jangan-jangan kita juga disibukkan oleh satu atau dua masalah saja.


Cincin akik pancawarna corak pandangan koleksi Edi Kreasi





Selasa, 16 Agustus 2016

Perbedaan Salafi, Wahhabi dan ISIS (Pertemuan 29)


Hari begini masih belum bisa membedakan antara Salafi, Wahhabi dan ISIS? Kasihan sekali ya. Supaya tidak bikin malu, ayo kita bahas 7 perkara berikut ini:

1. Salafi
Salafi adalah orang yang mengikuti manhaj Salaf. Yakni memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman As-Salafush-Shalih, yaitu para shahabat, tabi'in, dan tabi'it-tabi'in.

2. Wahhabi
Wahhabi adalah orang yang mengikuti seseorang yang bernama 'Abdul-Wahhab.
a) 'Abdul-Wahhab bin 'Abdur-Rahman bin Rustum, di mana ini dikenal sebagai daulah Wahhabiyyah atau daulah Rustumiyyah, orang ini bermanhaj Khawarij.
b) Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul-Wahhab, beliau bisa dikatakan sebagai pahlawan Sa'udi yang bermanhaj Salaf.

3. ISIS
ISIS adalah sebuah pergerakan untuk mendirikan daulah di Irak dan Syam, yang sekarang berganti nama menjadi IS lantaran supaya pengaruhnya bisa lebih luas lagi. Mereka ini bermanhaj khawarij.

Mungkin di kalangan penganut paham 'Asyairah berpikir bahwa Salafi meneruskan perjuangan Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul-Wahhab, sedangkan ISIS meneruskan perjuangan 'Abdul-Wahhab bin 'Abdur-Rahman bin Rustum, sehingga keduanya dijuluki sebagai Wahhabi. Jadi mereka menyatukan dua paham yang sejatinya berlawanan antara satu dengan lainnya. Sehingga istilah Wahhabi sendiri menjadi tidak jelas ke mana alamatnya?.

4. Salafi Versus Khawarij
Sampai hari ini hingga kiamat nanti yang namanya Salafi dan Khawarij tidak akan pernah bersatu. Terlebih setiap sekte punya prinsip dasar dalam memulai langkahnya, sebagaimana Salafi memulai da'wahnya kepada 'aqidah sementara Khawarij memulai da'wahya kepada daulah.

5. Hakikat Khawarij
Titik fokus khawarij adalah khilafah, mereka berpendapat bahwa selama belum terwujud kembali kekhilafahan maka kaum muslimin terancam kufur. Maka secara otomatis mereka menganggap thaghut para penguasa di negeri-negeri muslim lantaran berhukum dengan selain hukum Allah. Kalau 'Arab Sa'udi saja dikafirkannya padahal di sana menjalankan undang-undang Islam, apalagi Indonesia yang notabenenya menerapkan sistem demokrasi, tentu labih dikafirkannya lagi.

6. Hakikat Salafi
Jika kita mempelajari lebih jauh manhaj Salaf maka kita akan mendapati dua hal berikut ini:
a). Mengajak kaum muslimin untuk ta'at kepada penguasa muslim selama perintahnya tidak untuk berma'shiyat kepada Allah Ta'ala.
b). Melarang kaum muslimin untuk mencela penguasa.
Jadi, barangsiapa yang menyelisihi dua hal tadi maka dia sejalan dengan Khawarij.

7. Hakikat Teroris
Teroris itu pemberontak, jadi barangsiapa yang melakukan pemberontakan kepada penguasa maka dia adalah teroris. Teror itu ada yang berupa fisik dan ada yang berupa pemikiran, adapun mengajak manusia untuk membenci penguasa merupakan teror pemikiran, sehingga tidak jarang gara-gara teror pemikiran itu bisa berlanjut kepada teror fisik.

Perang memang merupakan bisnis yang paling besar di dunia, barangsiapa yang bisa menjadi super power maka berarti dia bisa menguasai kekayaan yang dimiliki oleh negeri-negeri di muka bumi ini, terutama hasil tambang.

Untuk menjadi hebat dalam peperangan tidak bisa lepas dari suatu taktik. Semakin canggih taktiknya maka semakin besar pula kemungkinan untuk menang.

Untuk kita yang bukan ahli perang, setidaknya mengambil pelajaran dari sejarah peperangan yang ada, terutama perang pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Al-Khulafaur-Rasyidin, sehingga jelas siapa kawan dan siapa lawan.


Red vulkanik round cut manual faceting


Minggu, 14 Agustus 2016

Saat Sulit Jangan Pelit (Pertemuan 28)


Beraneka ragam motivasi manusia ketika hendak memakai cincin permata, ada yang cuma sekedar perhiasan dan ada pula untuk cari hoky, orang cina Sambas bilang "heng". Mereka mengatakan: "Mengapa intan mahal? Intan mahal karena setelah ia dibeli maka dagangan jadi laris alias murah rezeki"

Bolehkah kita sebagai orang Islam cari hoky dari batu permata? Kalau bicara soal hoky sebenarnya tidak ada di dalam Islam, kecuali kita mengganti kata hoky tersebut dengan keberuntungan, maka untuk suatu keberuntungan seyogyanya kita mendapatkannya melalui perbuatan baik, bukan malah melalui benda-benda yang dianggap bertuah, baik itu karena tuah batu maupun itu tuah besi. Adapun kalau tuah anak pembahasannya lain lagi, sebab tiap anak telah Tuhan atur rezekinya masing-masing. Sehingga tidaklah salah kalau orang-orang doeloe bilang: "Banyak anak, banyak rezeki".

Pada saat kehidupan bertambah sulit, sementara harga barang semakin naik, hampir membuat sebagian orang merasa panik, apalagi sang istri selalu bertanya apa ada duit? Padahal kuncinya hanya sedikit, perbanyak saja berbuat baik, berhemat namun tidak pelit, insya Allah keadaan tak terlalu sakit.

Ini tak ubahnya mencari berkah melalui seorang Syaikh, yaitu dengan cara duduk di majlisnya untuk belajar ilmu agama, bukan dengan cara meminum air kobokannya. Demikian pula dengan tawassul, tawassul yang benar adalah tawassul yang sesuai syari'at seperti dengan menyebut nama-nama dan shifat-shifat Allah, dengan adanya keimanan, dengan adanya ketauhidan, dengan 'amal shalih, dan dengan menghindari ma'shiyat. Bukan dengan cara berperantara dengan benda-benda maupun dengan perantaraan makhluq ghaib.

Mengenai seseorang yang suka memikirkan hutang maka orang bijak pernah mengatakan: "Hutang itu kalau mau lunas kudu dibayar bukan hanya dipikirkan". Perlu niat yang mantap, perlu tekad yang bulat, dan perlu usaha yang kuat untuk bisa berjuang melawan berbagai kesulitan. Sebab ide sebaik apapun tidak akan berguna kecuali bila ia dicoba terlebih dahulu. Orang Malaysia bilang: "Daun serai daun gaharu, belum terai belum tahu". Bukan malah menyalahkan batu: "Semenjak saya pakai batu ini, tiap hari orang datang nagih hutang, berarti batu ini kurang heng".

Budaya suka menyalahkan orang lain atas kegagalan yang dialami merupakan hasil dari didikan semasa kecil. Saat seorang anak tersandung batu maka orang tua langsung memukul batu itu seraya mengatakan: "Bodoh kamu batu", di saat berikutnya anak tadi menjerit kesakitan lantaran ketika berjalan dia menabrak sebuah kursi, tiba-tiba datang orang tuanya mengambil sesuatu lalu memukul kursi itu seraya mengatakan: "Bodoh kamu kursi". Akhirnya si anak tadi berpikir bahwa dia tidak pernah salah, yang salah adalah batu, kursi atau bahkan orang lain. Mestinya kan selaku orang tua baiknya menasehatkan: "Makanya kalau jalan hati-hati".

Dampak dari salah dalam mendidik anak dapat kita lihat dalam kasus berikut, seseorang ini merupakan pengrajin batu permata, suatu waktu dia berkeinginan untuk membuat cutting faset, setelah beberapa kali mencoba namun hasilnya selalu gagal, lalu dalam kekecewaan dia mengatakan: "Ini salah alat". Jadi alih-alih untuk memperbaiki keterampilan malah dia menyalahkan alatnya lantaran hanya memakai mesin pompa air bekas yang sudah dimodifikasi. Padahal kalau tangannya terampil justru dia bisa bikin cutting faset dengan cara manual tanpa bantuan mesin. Dalam hal ini Pak Slamet Rahardjo pernah mengatakan dalam bukunya: "Kalau kualitas asahan batu kurang bagus maka yang perlu diasah ulang bukan batunya tetapi orangnya".

Sebagai teman tentunya kita tidak perlu untuk ragu dalam berbagi ilmu, meskipun suatu hari nanti dia bakal menjadi pesaing kita. Sebuah contoh tentang mencuci pakaian, meskipun urusan mencuci pakaian merupakan perkara yang sangat mudah, namun banyak juga orang yang mengupahkannya. Demikian pula dengan memasak di dapur, rata-rata istri pandai dalam memasak, namun di waktu-waktu tertentu dia bisa saja membeli nasi bungkus di sebuah rumah makan. Maka ini adalah bicara tentang sempat tidaknya seseorang dalam menangani suatu pekerjaan, jika tidak sempat maka dia cukup mewakilkannya kepada orang lain. 



Pernak pernik dari batu vulkanik